18 Mei 2015 - 22:36:46 - Read: 1156

Traditional Decision Support System : Gunting, Batu, Kertas, Golok

Pada tau dong tentang cara pengundian secara tradisional yang biasa kita kenal dengan istilah 'Hompimpah'? Udah pada googling tuh istilah berawal dari mana? Yaudah, itu PR aja buat kamu :p Hompimpah adalah kegiatan majemuk dari 'Suit' karena melibatkan minimal 3 orang. Karena hompimpah adalah cara pengambilan keputusan dengan sistem voting terbanyak.

Berbeda dengan 'Suit' yang hanya bisa dilakukan oleh 2 orang. Di Indonesia, 'Suit' dilakukan dengan menggunakan jari. Yakni jari telunjuk (orang), jari kelingking (semut), dan jempol (Gajah). Dan perbandingannya sebagai berikut:

Jari telunjuk (orang) vs Jeri Kelingking (semut) = Orang yang menang

Jempol (Gajah) vs Jari Kelingking (semut) = Semut yang menang

Gajah vs Orang = Gajah yang menang

Perbandingan diatas sebenarnya kurang valid. Karena pada kenyataannya Gajah hampir punah gara-gara manusia.

Selain suit yang melibatkan manusia, gajah, dan semut, ada lagi sebuah 'suit' yang melibatkan Kertas, Gunting, dan Batu, dengan perbandingan sebagai berikut:

Kertas vs Gunting = Gunting Menang. Dengan alasan, kertas bisa digunting, dan gunting gak bisa dikertas. (???)

Gunting vs Batu = Batu Menang. Dengan alasan Gunting gak bisa meng-gunting batu. Tapi kan batu juga gak bisa mem-batu gunting?

Batu vs Kertas = Kertas Menang. Dengan alasan Batu bisa dibungkus pake kertas. Lah... kertas kalo digepok pake batu kan sobek duluan?

Tapi mari kita iyakan saja sistem pengambilan keputusan menggunakan cara tradisional diatas. Karena cara-cara diatas hanya digunakan untuk mengambil keputusan secara instan dan tidak membutuhkan analisis data untuk memperkuat 'Keputusan'. Coba bayangkan seandainya tes 'PNS' menggunakan sistem suit? Jadinya gini:

Si pelamar suit sama Panitia Penyelenggara Tes CPNS. Kalo si pelamar menang, langsung lulus jadi PNS, klo si pelamar kalah, dikumpulin sama pelamar-pelamar lain yang juga kalah, trus hompimpah. Yang menang, langsung lulus jadi PNS. Kan gak logis... :D

Atau contoh lain lagi, misalnya pemilihan Presiden menggunakan sistem suit. Yang ada malah pada pake golok. Ya, kita butuh variabel ke-empat : Golok. Karena dengan golok, Sistem Penunjang Pengambilan Keputusan secara Tradisional bisa jadi lebih kuat dan bisa diterima.

Ya kan gitu, kalo misalnya lagi ada sengketa lahan gitu, kan gak bisa diselesaikan menggunakan suit ala Kertas, Gunting, dan Batu saja? Harus pake? Benar... Golok.

Atau ada cewek dari kampung selatan yang udah punya cowok dari kampung utara, digodain sama cowok dari kampung barat. Kan gak bisa tuh kampung utara sama kampung barat 'suit' buat ngedapetin tuh cewek selatan cuma dengan Gunting, Batu, dan Kertas? Ya benar. Mereka butuh golok-golokan antara kampung utara dan kampung barat. (Maksudnya tawuran antar kampung yak?) Ya, benar.

Begitulah...

Itulah kenapa para ilmuwan IT menciptakan Decision Support System seperti Sistem Pakar, AHP, Fuzzy Logic, Algoritma Genetika, AI, dan lain-lain untuk menyelesaikan hal-hal kompleks yang sebenarnya sederhana, lalu dikompleks-in sendiri oleh manusia. Ya benar. Seperti tulisan ini.

Beginilah...

TAMAT.