22 Juni 2016 - 23:56:12 - Read: 472

Persepsi Tak Seksi

Sebagai manusia biasa sekali, terkadang godaan iman, walaupun dibulan puasa sekalipun, tetap mampu menggoyahkan singgasana rasa bersyukur menerima keadaan apa adanya. Pada saat kita berada pada rotasi terendah hidup, godaan itu memaksa kita untuk melihat keatas. Kehidupan dengan serba berkecukupan milik orang lain.

Hal ini sering terjadi padaku, bukan tentang materi, tapi tentang profesi.

Aku adalah programmer paruh waktu yang menerima honor tak menentu dengan rentang waktu pekerjaan yang mendadak selalu diperpanjang oleh client karena koreksi-koreksi diluar kesepakatan awal konsep. Dan dengan job request yang tak selalu ada setiap bulannya.

Semingguan full aku bisa menghabiskan waktu didepan laptop "hanya" buat ngoding, mencari referensi di stackoverflow, dan rehat sejenak mendengarkan musik, membuka facebook, dan nonton film seperti halnya manusia normal lainnya. "Rehat" disini adalah bagian dari pekerjaan ini. Hanya saja, "rehat" ini tak terlihat sebagai bagian dari pekerjaanku dimata orang lain. "Rehat" ini lebih terlihat sebagai "malas-malasan" dimata orang lain. Persepsi Tak Seksi. Tak memihak.

Orang-orang ini lebih menganggap kuli bangunan, buruh pelabuhan, tukang ojek, atau pekerja kantoran sebagai pekerjaan yang sesungguhnya. Padahal ngoding adalah salah satunya. Tapi itu bukan pada persepsi mereka. Kuli bangunan hanya sempat memegang gadget mereka sambil membuka facebook ketika mereka "rehat", dan ini dimaklumi. Karena mereka sedang beristirahat. Tapi buat programmer, membalas chatting seseorang di facebook sambil menunggu firmware selesai di download adalah dosa. Karena membuka facebook ketika bekerja. Padahal ini adalah bagian dari rehat dari persepsi programmer.

Buruh pelabuhan yang tampak lelah menciptakan iba bagi orang lain, tapi otak programmer yang lelah berpikir yang bahkan mampu melelahkan seluruh tubuhnya adalah dosa. Karena aku tak terlihat sedang melakukan pekerjaan yang sesungguhnya bagi orang lain. Dan tragisnya, tak semudah itu aku bisa mengatakan "Itu persepsi mereka", karena kita hidup didalam persepsi semua orang. Karena kita hanya bisa hidup didalam persepsi kita sendiri ketika "hasil" dari pekerjaan ini bisa menyenangkan persepsi orang lain.

Aku, adalah orang yang terhakimi persepsi.