22 Juni 2016 - 01:17:16 - Read: 469

Ketika Kemalasan Menciptakan Sebuah Mahakarya. Halah Judulnya.

Yarp, lebaran adalah moment tahunan yang sayang jika harus dilewatkan begitu saja. Termasuk salah satunya adalah "Mendekorasi Ulang" rumah. Nah ini adalah salah satu momok buat seorang blogger seperti aku. Sebagai satu-satunya cowok yang paling tua dirumah, sepertinya tiba-tiba aja se-keluarga sepakat kalo semua pekerjaan ala "pria" pake tanda kutip, semua bisa aku kerjakan. Jangankan benerin genteng bocor, naik tangga aja udah high phobia. Jangankan benerin engsel pintu, klo pintu rusak ya ganjel aja pake batu. :D

Tapi bukan, bukan hal-hal diatas yang aku kerjakan lebaran tahun ini. Tapi ngecat rumah. Baru bayangin aja udah capek ini otak. Hahaha. Karena harus mikir warna apa yang cocok, ngecat dalem rumah atau luar rumah dulu, mulai dari bawah atau dari atas. Arrrr... Belum lagi habis beli cat, ini dicampur sama air lagi gak sih? Kok gak ada manual booknya? Padahal beli obat batuk dua puluh rebu aja ada buku panduannya. Ini cat cepek ceng gak ada panduannya? Cuma ada warning "Jangan Ditelan" Ya iya.. siapa juga mau nelen itu cat? Bego.

Ya udah, dengan modal takut kena murka lagi dari bunda, nekatkan diri aja deh buat ngecat. Dan dengan basic "kemalasan luar biasa", mulai deh ni otak mikir gimana biar caranya cepet selesai, tapi bagus.

Euhm...

Masih euhm...

Kalo ngecat semua dinding, berarti harus naik tangga, gimana kalo dicat bawahnya aja. Ide bagus. Cat bawahnya aja :D

Dan.... tara...

Cantik kan.. Sebuah maha karya ala blogger. :D

Lah, iya loh, ini adalah sebuah pencapaian. Seorang Bill Gates mungkin tidak akan mengatakan uang seratus juta itu jumlah yang banyak, tapi buat seorang mahasiswa yang main adsense trus dalam setahun tembus seratus juta, itu adalah sebuah pencapaian. Yarp, seperti halnya dengan mantan yang tambah cantik setelah putus, pencapaian keberhasilan seseorang itu relative. ^_^

Mungkin aku tidak berhak mengatakan hasil cat diatas adalah "Seni", karena hanya seniman yang boleh mengklaim sesuatu sebagai seni atau bukan. Tapi seni sendiri itu apa? Bagi seorang programmer, "ngoding" itu seni. Dan buat para hacker, "hacking is art". See?

Seperti kata seorang Composer Mark Applebaum: yang diundang sebagai pembicara di acara seminar yang diadakan oleh TED, dengan materi yang dia bawakan "The mad scientist of music" ,

He writes music that breaks the rules in fantastic ways, composing a concerto for a florist and crafting a musical instrument from junk and found objects. Musik yang dia bawakan sangat susah diterima di telinga. Dia adalah seorang musisi expert yang bosan dengan kemampuannya. Bosan dengan jenis musik yang sudah dia kuasai.

"boredom actually forced me to change the fundamental question..."

"Is it music?"

menjadi

"Is it interesting?"

So, jika seseorang memainkan musik tapi tidak menarik, bukankan lebih menarik ketika seorang anak kecil bermain di air lalu membuat suara keributan dengan meng-e-plak-e-plak-an tangannya diatas permukaan air, tapi ber-ritme dan menyenangkan untuk didengarkan? Yarp, seperti itulah hubungannya dengan pencapaianku sebagai seseorang dengan gender "cowok" yang gak pernah mengerjakan pekerjaan cowok dirumah. Walaupun cuma ngecat dinding saja. Cuma bedanya, kalo Mark Applebaum membuat sesuatu yang tidak umum karena "bosan", sedangkan aku mengecat setengah dinding karena "malas". Yarp, beda di motivasi, tapi sebelas dua belas di hasil kan? :p

Ruang tamu dirumahku mungkin akan lebih parah (karena aku yang ngecat dan milih warna) seandainya aku mengecat semua dindingnya. Tapi keputusan mengecat bagian bawahnya saja sepertinya tidak akan aku sesali. Dan malah aku anggap sebagai sebuah pencapaian. (Ngeles mode on)

Jadi, hikmah apa yang bisa diambil dari kisah ini? Halah... :D